Tsiqoh : Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah

Tsiqoh : Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah

Tsiqah merupakan faktor yang harus dimiliki oleh individu (untuk keselamatan dan kebaikan hidupnya), masyarakat (untuk membangkitkan dan meningkatkan kehidupannya), dan barisan (untuk kekuatan dan kekokohan), serta manhaj/sistem (untuk beramal, berdakwah dalam kerangka system itu, dan berijtihad di jalan-Nya).

Kebutuhan akan sifat ini semakin meningkat, terutama pada saat menjalani ujian dan cobaan, atau ketika terjadi peperangan dengan tentara bathil . Maka tsiqah pada kebersamaan Allah, tsiqah pada dukungan serta pertolongan-Nya dapat meringankan  kerasnya tekanan dan pedihnya pertarungan yang mereka hadapi.

  1. Tsiqah kepada Allah SWT

Maksudnya adalah tsiqah akan keesaan, rububiyah, asma, dan sifat Allah SWT. Kita ingat bagaimana Musa AS dan para pengikutnya yang berlari menghindar dari Fir’aun beserta pasukannya demi mepertahankan agama. Sat itu mereka menghadapi masa yang sulit dan kritis; di belakang musuh mengejar dan di hadapan mereja gelombang lautan menghadang. Maka berteriaklah pengikut Musa, sambil menyerah dan histeris “Sesungguhnya kita akan terkejar!”. Lalu Musa AS menjawab dengan penuh kepercayaan untuk menghilangan ketakutan dan prasangka, serta menanamkan ketenangan pada jiwa mereka. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS. Asy-Syu’araa’:62).  Berkah dari keyakinan itu adalah dengan didatangkannya mukjizat dahsyat, yaitu membelahnya lautan yang menyelamatkan mereka dan memusnahkan musuh-musuh mereka (QS. Asy-Syu’araa’:63-68).

Demikian juga Rasulullah SAW saat bersama dengan sahabatnya Abu Bakar RA di dalam gua, dan terkepung oleh pasukan yang kuat dan kejam. Pada saat itulah Abu Bakar RA membisikan ketakutannya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kaki mereka, pasti akan melihat kita berdua.”. Maka bersabdalah Rasulullah SAW dengan keyakinan akan kebersamaan Allah, “Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu dengan dua orang, sementara Allah adalah yang ketiga dari mereka berdua, jangan bersedih, sesungguhnya Allah SWT bersama kita.” Pada saat itu terbukti kekuasaan Allah untuk menghadang kekuatan jahat dan keji, yaitu dengan perantara laba-laba yang membuat sarang di dekat mereka (QS. At Taubah:40).

  1. Tsiqah pada diri sendiri (Percaya diri)

Hal ini merupakan sisi lain dari tsiqah. Seperti yang telah digambarkan dalam Al Qur’an, di mana para ulama shalih senantiasa melepaskan segala daya upaya dan pertolongan kecuali hanya kepada Allah, dan Rasulullah SAW bersabda, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (tiada daya upaya kecuali dari Allah) merupakan salah satu perbendaharaan surga.”

Keyakinan ini dapat kita lihat pada sikap Rasulullah SAW dalam perang Hunain. Saat itu kaum muslimin menderita kekalahan dan terpaksa lari ketakutan melihat perangkap yang telah dipersiapkan musuh-musuh mereka. Tetapi tidak demikian dengan Rasulullah SAW. Beliau malah berseru di atas kudanya sambil berseru, “Aku seorang nabi, tidaklah aku berbohong, aku cucu Abdul Muthalib.”. Sesungguhnya tindakan pengumuman dirinya itu adalah yang sangat berhahaya bagi keselamatan Nabi SAW, karena beliau merupakan sasaran utama musuh. Akan tetapi dengan makna dan keberkahan kepercayaan diri yang khas ini, kembalilah kaum muslimin yang lari, untuk bergabung kembali di sekitar pemimpin dan panglimanya, yaitu Rasulullah SAW, dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang nyata dengan harta ghonimah yang berlimpah ruah.

  1. Tsiqah kepada pemimpin

Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan pada konsep. Seorang pemimpin layak mendapat seluruh kepercayaan manakala ia memimpin diatas sistem kebenaran, memberi contoh dengan komitmen, ketekunan, dan bermujahadah di jalan-Nya.

Sikap Umar yang pada awalnya menentang perintah untuk memerangi orang yang tidak mau berzakat, dan ia berkata, “Bagaimana mungkin kita dapat memerangi orang-orang yang bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?”. Lalu Abu Bakar RA menjawab dengan ikhlash dan jujur, “Demi Allah, aku pasti memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat.”. Lalu Umar berkata, “Allah telah melapangkan dadaku untuk berperang ketika saya melihat Abu Bakar telah lapang dadanya untuk itu.

Alangkah indah perkataan itu, yang menyatakan kepercayaan Umar atas Khalifah Abu Bakar untuk berperang adalah bukti kebenaran. Oleh karena itu ia menganggap pemimpinnya, Abu Bakar sebagai contoh orang-orang yang menjadi ukuran dikenalinya kebenaran.

  1. Tsiqah kepada parjurit

Ini merupakan wajah lain kepercayaan kepada pemimpin, yang merupakan hak tentara atas kewajibannya terhadap pemimpin, berupa munculnya dalam diri prajurit berbagai air mata pemberian, karya, dan pengorbanan.

Ketika penduduk Yaman meminta Rasulullah SAW mengutus seorang yang dipercaya untuk mengajarkan agama, maka beliau menjawab, “Aku mengutus kepada kalian, seorang yang dapat dipercaya dan benar-benar dipercayayaitu Abu Ubaidah RA.” Suatu saat Khalifah Umar duduk berasma para sahabatnya, lalu ia berkata kepada mereka, “Coba angankan cita-cita kamu.” Maka salah seorang sahabat berangan-angan jika memiliki rumah yang penuh dengan emas untuk diinfaqkan di jalan Allah. Lalu masing-masing juga berangan-angan ke sana ke mari hinga akhirnya Umar RA mengakhiri dengan mengumumkan angan-angannya dan berkata, “Saya bercita-cita memiliki rumah yang dipenuhi dengan orang-orang seperti Abu Ubaidah RA untuk saya mintai tolong mengurus amanah Islam.”

Perhatikanlah, betapa besarnya kepercayaan Rasulullah dan Umar RA kepada Abu Ubaidah RA ketika ia sebagai prajurit telah memenuhi kemampuannya.

 

  1. Tsiqah antar individu

Pada dasarnya setiap orang yang komitmen kepada kelompok kaum mukminin merupakan ahli agama, menjalankannya dengan berbuat baik, dan menciptakan perdamaian. Dialah orang yang dapat dipercaya dan memberikan rasa ketenangan.

Kalau kita menalar sumber melimpah ruah dari sunnah Rasulullah SAW, kita akan mendapatkan sebagian besar gambarannya terbentuk dari kepercayaan antara Muslimin. Pertama bersumber dari Rasulullah SAW, lalu berpindah kepada para perawi hadist, dan hal ini dilandasi atas kepercayaan antar individu. Seperti yang dikatakan oleh Al Bara bin ‘Azib RA, “Tidak setiap hadist kami dengar langsung dari Rasululah SAW, adalah para sahabat yang menyampaikannya kepada kami dari Beliau”. Oleh karena itu, tsiqah adalah sifat dan karakteristik bagi perawi hadist. Jika dia diketahui memiliki kejujuran, amanah, dan keteguhan, maka ia dapat dipercaya, dan riwayat yang dibawanya disambut dengan rasa tenang dan dapat diterima.

Ketika terjadi peristiwa Haditsul Ifki (Berita bohong) yang menyangkut kehormatan A’isyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq, ummul mu’minin RA, turunlah ayat yang mengutuk dengan keras dan mengancam orang-orang yang menyebarkannya (QS. An Nuur: 11). Sehingga masyarakat muslim dapat kembali kepada prinsip kepercayaan yang menjadi dasar stabilitas dan kekuatannya.

 

Dirangkum dari buku: Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah, Karangan Muhammad Abdul Halim Hamid

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *