Istiqamah Hingga Akhir Hayat

Istiqamah Hingga Akhir Hayat

Perjalanan hidup tidaklah mudah, banyak aral melintang. Godaan syubhat dan syahwat terus mendatangi kita di setiap hari, sejak terbangun hingga kembali ke pembaringan. Duhai celakanya kita jika tidak bisa mengarunginya.

Setiap kita tentunya ingin untuk bisa menjadi orang yang shalih. Namun apa daya, kadang diri ini lemah dan kalah. Kalah sudah kebodohan kita oleh syubhat. Kalah sudah jiwa kita oleh syahwat. Kalah dan patah, berkali-kali. Namun wahai saudaraku, jangan biarkan beberapa kesalahan tersebut membuat jiwa kita mengalah dan menyerah, tetaplah istiqamah.

Saudaraku, kehidupan ini hanya sekali. Dan di sana hanya adalah pilihan kenikmatan abadi atau siksa abadi. Semua yang akan kita dapatkan nanti tergantung apa yang kita lakukan saat ini. Selalu ingatlah saudaraku, bahwa semua perjuangan untuk istiqamah akan mendapatkan hasil yang indah di akhirat. Dan sungguh Allah telah berfirman mengenai orang-orang yang istiqamah.

Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan, “Tuhan kami ialah Allah”, kemudian mereka tetap istiqamah maka tidak ada kekhawatiran terhadap mereka dan mereka tiada (pula) berduka cita (Al-Ahqaf ayat 13)

Yakinlah saudaraku bahwa istiqamahmu tidak akan berakhir pahit, tidak akan sia-sia semua lelah dan payah yang engkau lakukan karena-Nya. Satu butir debu pun akan engkau temui balasannya di surga kelak, di akhirat kelak, di negeri yang terasa jauh namun sejatinya negeri itu dekat.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… janganlah engkau berputus asa. Mintalah kepada Allah agar memberi keteguhan, berdoalah dan bergeraklah mengerjakan amal-amal shalih. Sesungguhnya hal tersebut akan dapat membuat semangat kembali muncul, serta mendatangkan penjagaan Allah terhadap diri kita.

Dan jika dirimu sekarang sedang merasa lemah, merasa patah,… teruslah berbenah, jangan pernah berputus asa. Sungguh sahabat Ibnu Mas’ud yang mulia pernah berkata:

Abdullah bin Mas’ud radhiyallahu anhu pernah mengatakan, “Kebinasaan itu ada pada dua perkara, yaitu merasa putus asa dari rahmat Allah, dan merasa bangga terhadap diri sendiri.” (muslimah).

Jagalah imanmu, wahai saudaraku. Tegakkan kakimu di atas kebenaran, jangan mundur dan jangan merasa lemah. Sesungguhnya Allah selalu bersamamu. Istiqmahlah hingga akhir hayat. (haryo/dakwatuna.com)

 

Sabar : Beginilah Jalan Dakwah Telah Kita Lalui

Sabar : Beginilah Jalan Dakwah Telah Kita Lalui

Sabar, sabar, sabar… Beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, maka Allah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas”.

Bisa jadi ada salah paham di antara para aktivis. Bisa jadi ada ketidaknyamanan perasaan di antara para pelaku dakwah. Bisa jadi ada data yang kurang valid, namun digunakan untuk pengambilan keputusan. Bisa jadi ada stigma yang menganga, dan tidak pernah ada pengadilan yang memberikan klarifikasi. Bisa jadi ada persepsi yang keliru. Bisa jadi ada ketidaktepatan dalam menerapkan teori.

Capek, lelah mendera jiwa dan raga. Namun ini adalah pilihan, yang tidak ada sedikitpun paksaan kita bersamanya. Bisa jadi ada ketidakpahaman, ada ketidakmengertian, dan kita tidak pernah menemukan jawaban. Bisa jadi Khalid bin Walid tidak pernah mengerti mengapa dirinya diganti dari posisi panglima perang yang demikian dihormati. Namun toh kehormatan dirinya tidak runtuh karena posisi itu tidak lagi dia miliki.

Kehormatan diri kita adanya pada konsistensi. Konsisten menapaki kebenaran. Konsisten menapaki jalan kebaikan. Komitmen pada peraturan. Teguh memegang keputusan. Mendengar dan taat, itulah karakter kader teladan. Bukankah ini ujian, karena yang kita dengar dan kita taati bisa jadi berbeda dengan suara hati nurani. “Qum Ya Hudzaifah !” Menggelegar suara perintah. Dan Hudzaifah segera bangkit berdiri.

Kehormatan diri bukan terletak pada posisi kita sebagai apa. Tidak menjadi apa-apa, tetap bisa dihormati. Kita terhormat karena karakter yang kuat, kita terhormat karena karya yang tiada pernah berhenti, kita terhormat karena kerja yang terus menerus, kita terhormat karena keteladanan, kita terhormat karena kesabaran dan kesetiaan.

Ya. sabar, sabar, dan teruslah sabar… Karena memang beginilah jalan dakwah telah kita lalui. Berkomunitas bersama orang-orang salih bukannya tanpa masalah, dan Allah telah memerintahkan agar kita selalu bersabar bersama mereka :

“Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridhaan-Nya; dan janganlah kedua matamu berpaling dari mereka (karena) mengharapkan perhiasan dunia ini; dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah keadaannya itu melewati batas

Tsiqoh : Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah

Tsiqoh : Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah

Tsiqah merupakan faktor yang harus dimiliki oleh individu (untuk keselamatan dan kebaikan hidupnya), masyarakat (untuk membangkitkan dan meningkatkan kehidupannya), dan barisan (untuk kekuatan dan kekokohan), serta manhaj/sistem (untuk beramal, berdakwah dalam kerangka system itu, dan berijtihad di jalan-Nya).

Kebutuhan akan sifat ini semakin meningkat, terutama pada saat menjalani ujian dan cobaan, atau ketika terjadi peperangan dengan tentara bathil . Maka tsiqah pada kebersamaan Allah, tsiqah pada dukungan serta pertolongan-Nya dapat meringankan  kerasnya tekanan dan pedihnya pertarungan yang mereka hadapi.

  1. Tsiqah kepada Allah SWT

Maksudnya adalah tsiqah akan keesaan, rububiyah, asma, dan sifat Allah SWT. Kita ingat bagaimana Musa AS dan para pengikutnya yang berlari menghindar dari Fir’aun beserta pasukannya demi mepertahankan agama. Sat itu mereka menghadapi masa yang sulit dan kritis; di belakang musuh mengejar dan di hadapan mereja gelombang lautan menghadang. Maka berteriaklah pengikut Musa, sambil menyerah dan histeris “Sesungguhnya kita akan terkejar!”. Lalu Musa AS menjawab dengan penuh kepercayaan untuk menghilangan ketakutan dan prasangka, serta menanamkan ketenangan pada jiwa mereka. Musa menjawab: “Sekali-kali tidak akan tersusul, sesungguhnya Tuhanku besertaku, kelak Dia akan memberi petunjuk kepadaku” (QS. Asy-Syu’araa’:62).  Berkah dari keyakinan itu adalah dengan didatangkannya mukjizat dahsyat, yaitu membelahnya lautan yang menyelamatkan mereka dan memusnahkan musuh-musuh mereka (QS. Asy-Syu’araa’:63-68).

Demikian juga Rasulullah SAW saat bersama dengan sahabatnya Abu Bakar RA di dalam gua, dan terkepung oleh pasukan yang kuat dan kejam. Pada saat itulah Abu Bakar RA membisikan ketakutannya kepada Rasulullah SAW, “Wahai Rasulullah, jika salah seorang dari mereka melihat ke bawah kaki mereka, pasti akan melihat kita berdua.”. Maka bersabdalah Rasulullah SAW dengan keyakinan akan kebersamaan Allah, “Wahai Abu Bakar, apa pendapatmu dengan dua orang, sementara Allah adalah yang ketiga dari mereka berdua, jangan bersedih, sesungguhnya Allah SWT bersama kita.” Pada saat itu terbukti kekuasaan Allah untuk menghadang kekuatan jahat dan keji, yaitu dengan perantara laba-laba yang membuat sarang di dekat mereka (QS. At Taubah:40).

  1. Tsiqah pada diri sendiri (Percaya diri)

Hal ini merupakan sisi lain dari tsiqah. Seperti yang telah digambarkan dalam Al Qur’an, di mana para ulama shalih senantiasa melepaskan segala daya upaya dan pertolongan kecuali hanya kepada Allah, dan Rasulullah SAW bersabda, “Laa haula wa laa quwwata illaa billaah (tiada daya upaya kecuali dari Allah) merupakan salah satu perbendaharaan surga.”

Keyakinan ini dapat kita lihat pada sikap Rasulullah SAW dalam perang Hunain. Saat itu kaum muslimin menderita kekalahan dan terpaksa lari ketakutan melihat perangkap yang telah dipersiapkan musuh-musuh mereka. Tetapi tidak demikian dengan Rasulullah SAW. Beliau malah berseru di atas kudanya sambil berseru, “Aku seorang nabi, tidaklah aku berbohong, aku cucu Abdul Muthalib.”. Sesungguhnya tindakan pengumuman dirinya itu adalah yang sangat berhahaya bagi keselamatan Nabi SAW, karena beliau merupakan sasaran utama musuh. Akan tetapi dengan makna dan keberkahan kepercayaan diri yang khas ini, kembalilah kaum muslimin yang lari, untuk bergabung kembali di sekitar pemimpin dan panglimanya, yaitu Rasulullah SAW, dan akhirnya mereka memperoleh kemenangan yang nyata dengan harta ghonimah yang berlimpah ruah.

  1. Tsiqah kepada pemimpin

Hal ini berkaitan erat dengan kepercayaan pada konsep. Seorang pemimpin layak mendapat seluruh kepercayaan manakala ia memimpin diatas sistem kebenaran, memberi contoh dengan komitmen, ketekunan, dan bermujahadah di jalan-Nya.

Sikap Umar yang pada awalnya menentang perintah untuk memerangi orang yang tidak mau berzakat, dan ia berkata, “Bagaimana mungkin kita dapat memerangi orang-orang yang bersyahadat tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah?”. Lalu Abu Bakar RA menjawab dengan ikhlash dan jujur, “Demi Allah, aku pasti memerangi orang yang memisahkan antara shalat dengan zakat.”. Lalu Umar berkata, “Allah telah melapangkan dadaku untuk berperang ketika saya melihat Abu Bakar telah lapang dadanya untuk itu.

Alangkah indah perkataan itu, yang menyatakan kepercayaan Umar atas Khalifah Abu Bakar untuk berperang adalah bukti kebenaran. Oleh karena itu ia menganggap pemimpinnya, Abu Bakar sebagai contoh orang-orang yang menjadi ukuran dikenalinya kebenaran.

  1. Tsiqah kepada parjurit

Ini merupakan wajah lain kepercayaan kepada pemimpin, yang merupakan hak tentara atas kewajibannya terhadap pemimpin, berupa munculnya dalam diri prajurit berbagai air mata pemberian, karya, dan pengorbanan.

Ketika penduduk Yaman meminta Rasulullah SAW mengutus seorang yang dipercaya untuk mengajarkan agama, maka beliau menjawab, “Aku mengutus kepada kalian, seorang yang dapat dipercaya dan benar-benar dipercayayaitu Abu Ubaidah RA.” Suatu saat Khalifah Umar duduk berasma para sahabatnya, lalu ia berkata kepada mereka, “Coba angankan cita-cita kamu.” Maka salah seorang sahabat berangan-angan jika memiliki rumah yang penuh dengan emas untuk diinfaqkan di jalan Allah. Lalu masing-masing juga berangan-angan ke sana ke mari hinga akhirnya Umar RA mengakhiri dengan mengumumkan angan-angannya dan berkata, “Saya bercita-cita memiliki rumah yang dipenuhi dengan orang-orang seperti Abu Ubaidah RA untuk saya mintai tolong mengurus amanah Islam.”

Perhatikanlah, betapa besarnya kepercayaan Rasulullah dan Umar RA kepada Abu Ubaidah RA ketika ia sebagai prajurit telah memenuhi kemampuannya.

 

  1. Tsiqah antar individu

Pada dasarnya setiap orang yang komitmen kepada kelompok kaum mukminin merupakan ahli agama, menjalankannya dengan berbuat baik, dan menciptakan perdamaian. Dialah orang yang dapat dipercaya dan memberikan rasa ketenangan.

Kalau kita menalar sumber melimpah ruah dari sunnah Rasulullah SAW, kita akan mendapatkan sebagian besar gambarannya terbentuk dari kepercayaan antara Muslimin. Pertama bersumber dari Rasulullah SAW, lalu berpindah kepada para perawi hadist, dan hal ini dilandasi atas kepercayaan antar individu. Seperti yang dikatakan oleh Al Bara bin ‘Azib RA, “Tidak setiap hadist kami dengar langsung dari Rasululah SAW, adalah para sahabat yang menyampaikannya kepada kami dari Beliau”. Oleh karena itu, tsiqah adalah sifat dan karakteristik bagi perawi hadist. Jika dia diketahui memiliki kejujuran, amanah, dan keteguhan, maka ia dapat dipercaya, dan riwayat yang dibawanya disambut dengan rasa tenang dan dapat diterima.

Ketika terjadi peristiwa Haditsul Ifki (Berita bohong) yang menyangkut kehormatan A’isyah binti Abu Bakar Ash Shiddiq, ummul mu’minin RA, turunlah ayat yang mengutuk dengan keras dan mengancam orang-orang yang menyebarkannya (QS. An Nuur: 11). Sehingga masyarakat muslim dapat kembali kepada prinsip kepercayaan yang menjadi dasar stabilitas dan kekuatannya.

 

Dirangkum dari buku: Karakteristik dan Perilaku Tarbiyah, Karangan Muhammad Abdul Halim Hamid

Pesan Alm. Ust. Rahmat Abdullah : Perubahan Yang Bergegas

Pesan Alm. Ust. Rahmat Abdullah : Perubahan Yang Bergegas

Hari ini baik kalangan pergerakan, pengamat politik dan futurolog, sama-sama sukar memprediksi kejadian- kejadian di depan. Ada percepatan yang tak seorangpun dapat mengklaim bahwa itu hasil usahanya sendiri. Amerika ataupun Sovyet sama sekali tak pernah membayangkan betapa negeri adi daya itu akan bubar semudah penonton topeng monyet atau gerombolan katak yang ditumpukkan di atas baki.Kalau ada hal perubahan yang mudah menyentak perhatian kita, mungkin itu perubahan bendawi.
Dan, ini berarti kekayaan. Dunia kerap berdecak kagum oleh kemajuan teknologi. Efisiensi, pragmatisasi dan ekonomisasi segala gerak terjadi dengan cepat dan mencengangkan. Setelah berabad-abad merambat, akhirnya manusia berubah dengan cepat. Itu mengagumkan- lepas dari dampak negatif yang selalu datang menyusul puluhan tahun kemudian sesuai denganm karakter ilmu yang mempunyai daya koreksi, walaupun kadang terlambat. Seharusnya ia mampu melihat kedepan dan menyelesaikan kekurangannya sendiri, tidak hanya secara kumpul pengalaman tetapi teropong jauh ke depan, analitik, sistematik dan proyektif.
Mencegat ketertinggalanKebudayaan materialistik telah membuat para pakar berdecak kagum, seraya meluap-luapkan bayang-bayang darah, kerangka, dan tengkorak. Begitu banyak rakyat yang di korbankan demi ‘mercusuar’ peradaban.  Sebutlah tujuh keajaiban dunia, dari Pyramida, Tembok Besar Cina sampai Borobudur. Semua adalah produk peradaban besar yang harus di akui oleh mereka yang bersedia menjustifikasi semua kezaliman atas nama keharuman kolektif dan kebanggan bangsa.Berapa lama waktu yang ditunggu untuk terjadinya perubahan teknologi, modernisasi dan peradaban kebendaan di dunia Islam? Semoga bukan apatisme jika Sayid Quthb mengesankan pesimisme tersebut dengan angka: tiga abad. Itupun jika bangsa-bangsa yang  telah jauh melaju tiba-tiba menghentikan lari mereka. Lalu da’wah macam apa yang dapat kita berikan kepada bangsa-bangsa yang hanya mau mendengar dari mereka yang survive dan unggul dalam segala bidang kehidupan material? Kita yang dalam bidang pemikiran dan keruhanian pun belum cukup punya alasan untuk memimpin. Ada yang sangat bingung dengan tantangan ini. Lalu menawarkan solusi untuk membongkar-pasang habis-habisan manhaj yang sangat terpelihara ini.
Mereka bagaikan penumpang kendaraan sempurna, yang karena tak tahan oleh bantingan-bantingan di atas jalan yang penuh kubangan, dengan ‘pintar, kultural dan liberal’ menawarkan solusi. ‘Mesinnya harus kita bongkar’. Atau lebih mengharukan lagi komentar seseorang mereka: ‘Ini pasti karena kerusakan kaca spion’.Persoalan sekarang terkait dengan mentalitas ‘Apa kita mampu?’ atau Apa mereka mau percaya?’  Perlukan sebuah keberanian dan keyakinan diri untuk memilih islam sebagai solusi. Namun bagaimana cara meyakinkan si sakit untuk mau berobat dan meyakinkan yang sehat bahwa obat yang ia konsumsi itu patut dipasarkan. Ia tak boleh tampil dengan tubuh yang ringkih dan kesehatan yang mencemaskan.
Perubahan cepat di Zaman AwalMereka yang mengukur keberhasilan perubahan dari sudut pandang kebendaan akan sangat kecewa.  Dimana mereka bisa temukan prasasti kejayaan Rasul? Mereka bukan kelas para ‘pencipta’ keajaiban dunia –para kaisar yang orang tak peduli lagi apakah meraka mau mengukir, memahat dan membangun kegemilangan ‘abadi’ di atas tulang belulang dan gelimang darah rakyat-. Mereka akan lelah untuk bisa mengiyakan pesan agung Al- Musthafa Muhammad Shalallahu ‘alaihi wasallam:   “Sebaik- baik kurun (generasi, abad) ialah kurunku, kemudian yang  sesudahnya, kemudaian yang  sesudahnya”. Kalau ada abad-abad yang menjadi monumen peradaban materi, orang pun banyak mengkaitkannya dengan Timur Persia atau Barat Yunani, bukan pada hasil taghyir  fundamental yang mulai dicanangkan dari bukit Shafa, bahkan dari rumah Fatimah bin Khattab dan rumah Al Arqam bin Abi Arqam.Ka’bah bangunan monumental terbesar yang menjadi saksi dan disaksikan sejarah itu kosong. Tak ada pahatan patung-patung pujaan. Tak ada altar penyembahan dewata. Ia dan Batu Hitam (Hajar Aswad) tak pernah disembah, bahkan oleh orang paling musyrik di saat kemusyrikan itu berjaya. Tak ada kisah mobilisasi dan instruksi kerja paksa dari seorang raja yang sabdanya tak terbantahkan. Apa yang mau di wariskan ummat ini sebagai kalimat keabadian(kalimatan baqiyah), bila mereka tak dapat  kelurusan tauhid, kemuliaan pribadi, kecemerlangan akhlaq dan keceriaan bashirah, seperti yang telah diperankan Al –Khalil Ibrahim As? Haruskah menunggu tiga abad untuk mengejar peradaban material barat, dengan satelit khayalan dan pesawat mimpi, lalu menganggap mereka tidur? Ya, mereka mungkin akan segera hancur oleh napza, zina dan kebebasan seks, bahkan oleh perang dan perpecahan. Lalu mana saham ummat terbaik bagi tenggelamnya kezaliman akhir zaman. Buku Ma’alim fith Thariq mencatat tiga hal utama yang memicu dan memacu Taghyir pada generasi pertama dakwah.
Pertama, mereka menuntut ilmu untuk suatu action dan perubahan bukan semata-mata koleksi ilmu.
Kedua, mereka memutuskan hubungan dengan masa lalu jahiliyah dan tak ingin kembali ke masa lalu, walaupun sekejap.
Ketiga, mereka tegak di hadapan Al-Qur’an dengan penuh kesiapan, seperti seorang Prajurit siap siaga menerima aba-aba.Sukar membayangkan suatu perubahan dari masa lalu yang begitu berkarat, gelap dan bejad menjadi begitu cemerlang. Bayangkan dunia tanpa perubahan ini, lalu renungkan dimana dunia dapat menemukan kata ‘kemanusiaan, kesamaan, hak-hak asasi, ilmu pengetahuan, masyarakat madani, keadilan, kehormatan ibu dan perempuan, damai dan perang yang biadab….., dan seterusnya.
Gen Ringkih Gema taghyir (perubahan) sempat bergemuruh di negeri ini di awal abad 20. Ayat yang telah ribuan kali dibaca datang memberi pencerahan : “Sesungguhnya Alloh tak akan mengubah nasib suatu bangsa sebelum bangsa itu mengubah nasib mereka sendiri.” (QS. Ar Ra’d : 11). Namun yang terjadi, yang penting ada perubahan dari kita, karena Tuhan hanya akan ‘ikut’ mengubah sesudah kita mengubah nasib kita sendiri. Belum terpikir apa prioritas urutan perubahan. Bila sedangkal ini pengertian taghyir, niscaya kaum atheis semakin semakin yakin akan atheisme mereka, karena Tuhan tak berbuat apapun, kecuali bila kita berbuat.Semangat untuk merdeka dikobarkan dengan berjuang, bukan dengan berpangku tangan. Mungkin karena refleksi kemiskinan, keterjajahan dan ketertinggalan, maka fokus utama taghyir baru sebatas ‘go to hell’ nya Belanda dengan membawa pulang kulit putih, rambut pirang dan mata biru mereka. Mereka pergi mewariskan begitu banyak masalah yang terlalu mahal untuk di laundry: Undang-undang, budaya, tradisi politik, mentalitas dan lain-lain. Tiga perempat abad telah berlalu, banyak yang berubah dibangsa ini. Adakah respon selain respon perubahan-perubahan artificial?Jiwa-khususnya yang ringkih– menjadi perhatian utama perubahan permukaan hanya akan hidupsekejap. Kurun-kurun lalu memperlihatkan begitu banyak produk manusia berjiwa, berkarakter, dan berenergi besar. Mereka mengalahkan segala persoalan berat, membuat yang jauh menajadi dekat, bahkan ‘membuat mungkin’ segala yang selama ini mustahil. Timur dan Dunia Islam mengidap penyakit berat yang pernah diidap Bani Israil: kufur akan nikmat akal dan daya hidup. Akhirnya mereka hanya bisa menyumpahi persoalan dan bukan memecahkannya. Mereka memandang dunia dengan muram. Perubahan menjadi ‘monopoli andalan’ kalangan elit dan monopoli yang tak berbagi; “…Pergilah engkau hai Musa dengan Tuhanmu lalu berperanglah, kami tetap akan duduk-duduk di sini.” (QS. Al-Maidah:24).Ya, setiap penyakit pasti ada obatnya, kecuali jiwa ringkih (huzalul ruh) yang tak pernah Menginginkan perubahan!